Penyakit sosial, “Hikikomori”.

image from google

image from google

Penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah, pergaulan yang tanpa batas, tuntutan nilai yg semakin menggila, persaingan kerja yg ketat. Membuat sebagian orang memilih diam walau berusaha menyatu dengan lingkungan, namun ada juga yang memilih tindakan yang lebih ekstrim. Dengan memilih mengurung diri didalam kamar, dan tak pernah keluar kecuali untuk memperisapkan persediaan hidupnya untuk hari-hari berikutnya. Itu lah yang disebut “Hikikomori”.
Jepang adalah negara pertama yang menggemparkan dunia dengan fenomena “Hikikomori” pada kalangan remajanya. Jumlah pastinya tidak diketahui pasti, ada yang menghitung sekitar 1 persen dari populasi. Ini berarti sekitar 1 juta orang Jepang hikikomori. Hitungan yang lebih konservatif berkisar antara 100 ribu dan 320 ribu orang yang hikikomori. Mereka biasanya berusia 13-17 tahun, walau kadang ada orang yang menjadi hikikomori bahkan lebih dari 10tahun.

Meski tak hanya terjadi di Jepang saja, namun fenomena ini terlanjur dikenal dengan kata Hikikomori yang berasal dari bahasa Jepang dan memiliki arti “Menarik diri”. Kebanyakan hikikomori adalah laki-laki, walau ada juga yang perempuan. Faktor penyebabnya tidak begitu jelas, selain yang disebutkan diatas kebanyakan publik menyalahkan faktor keluarga, dimana hilangnya figur seorang ayah yang sibuk bekerja dari pagi hingga larut malam hingga tidak sempat melakukan interaksi dengan anaknya, serta ibu yang dianggap terlalu memanjakan anaknya. Serta perkembangan tekhnologi video game di Jepang yang luar biasa menggoda. Bisa di bilang mereka menarik diri dari tekanan kompetisi pelajar, pergaulan atau sekedar gila pada video game yang tak pernah mengalami kemunduran dalam perkembangannya.
Mungkin orang akan menganggap hikikomori itu sama dengan otaku. Namun sebenarnya berbeda. Otaku adalah orang yang memiliki minat atau hobi yang berlebihan sehingga mereka mengabaikan kegiatan yang lain, tapi mereka masih berinteraksi dengan keluarga atau teman di dunia nyata. Seperti penggemar komik yang berlebihan dan lain sebagainya. Namun semua hikikomori itu otaku, karena pelarian dari beban mereka adalah dengan memfokuskan diri pada hal yang mereka sukai agar mereka tidak teringat akan sakitnya pergaulan sosial diluar rumah.

Yang mereka lakukan? tentu saja hanya diam dikamar walau terkadang tetap bergaul dengan seseorang di dunia maya, menonton anime, baca manga, bahkan terkadang aktivitas makan dan buang air kecil dilakukan dikamar. Walau tidak punya kamar mandi mereka akan menampunya di plastik atau botol.

Lantas bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhannya. biasanya hikikomori akan keluar sebulan sekali untuk membeli perlengkapan “mengurung diri” nya, mereka tetap mendapat uang dari orangtua, bahkan terkadang mereka memaksa orangtua untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Tekanan disekolah sedikit banyak juga berpengaruh, misalnya karena pribadi itu terlalu gemuk, atau kurus, memiliki bentuk fisik yang berbeda dari yang lainnya seperti tinggi badan, atau karena dia memiliki kelebihan lain. Ada juga yang mengatakan bahwa ada hikikomori yang sebenarnya anak berbakat namun tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkannya disekolah. Seperti pepatah jepang, paku yang menonjol akan dipalu untuk menjadi seragam. Di jepang, keseragaman adalah utama, penampilan dan respek (postur tubuh atau muka) adalah penting. Maka perbedaan pada hal apapun, sbagian remaja lebih memilih menarik diri dari lingkungan.

Walaupun sebagian Hikikomori sangat benci mengurung diri, namun ketakutan yang luar biasa akan sulitnya bergaul dan bersosialisailah yang memaksa mereka memilih menghindar dari kegagalan, yang sebenarnya belum tentu akan mereka alami.

Semakin tua seseorang hikikomori, semakin kecil kemungkinan dia bisa berkompeten di dunia luarnya. Bila setahun lebih menjadi hikikomori, ada kemungkinan dia tidak bisa kembali normal lagi untuk bekerja atau membangun relasi sosial dalam waktu lama, seperti menikah. Beberapa tidak akan pernah meninggalkan rumah orang tuanya. Pada banyak kasus, saat orang tuanya meninggal atau pensiun akan menimbulkan masalah karena mereka tanpa kemampuan kerja dan sosial minimal – bahkan untuk membicarakan masalahnya dengan orang lain atau kantor pemerintah.

Dimana pada satu titik, beberapa merasa masa bodoh dengan tekanan ini, keluar dari jalur kompetisi dan menutup dirinya – hikikomori. Alhasil ada sekelompok pemuda yang tidak bisa dan tidak akan ikut dalam kelas pekerja Jepang – yang terkenal pekerja keras itu.

Walau para hikikomori tidak memiliki teman di dunia nyata tapi mereka memiliki jaringan para hikikomori didunia maya. Kegiatannya? tentu saja mungkin berbagi informasi tentang game yang baru release, atau ada anime baru, atau membahas apapun yang mereka sukai. Dan uniknya mereka berinteraksi tanpa pernah bertemu satu sama lain.

Untuk negara berkembang seperti Indonesia, mungkin penganut hikikomori belum banyak menjangkit para remajanya. Namun dengan terus meningkatnya standar nilai kelulusan sekolah, serta kerasnya kehidupan dikota-kota dan didesa-desa yang berpotensi menjadi sebuah kota. Penyakit ini patut diwaspadai…!!!
Menjaga interaksi yang baik dengan keluarga, penanaman pemahaman pada agama juga merupakan usaha pencegahan, keterbukaan satu sama lain, support, serta mau mendengarkan sebuah keluhan dan membantu memecahkan suatu permasalahan, merupakan bantuan yang tepat bagi kita terutama dalam keluarga agar tidak ada yang saling memendam perasaan negatif dan menyalurkan ke hal negatif pula.

Sebenarnya, Ane juga pernah menjadi bagian dari Hikikomori. Ane ga punya banyak teman karna memang sulit bergaul. Tapi saat ini ane selalu berusaha bersosialisasi dengan lingkungan luar, walaupun sebenarnya hati ane lebih senang saat sendirian didalam rumah. 😀

Untuk Hikikomori yang mungkin membaca artikel ini.
keluar n bersosialisasilah gan. Bila memang perlu pindah kampung halaman kalau menurut agan lingkungan sekitar ga mendukung buat agan berprestasi n bersosialisasi 🙂
Semangattt…!!!!!!!!!! 🙂

_______354_____________

Iklan

5 thoughts on “Penyakit sosial, “Hikikomori”.

  1. Elz Eltier berkata:

    ini penyakit toh ._. ….
    berarti aku juga udah kena nih penyakit O_O serem…
    thanks ini bermanfaat banget kak (y) ^.^

  2. ryan berkata:

    aku juga baru tau aku ternyata masuk hikikomori..
    ga tau lagi beda kamar ma tempat sampah..
    mau berubah tapi ga tau gmana..
    -_-

    • alfianzchelsea berkata:

      kluar n brusaha brsosialisasi gan.
      tinggalkan sejenak apa yg agan sukai ddlam kamar agan. dan dekati sesuatu yg mnurut agan sulit (mungkin bersosialisasi).
      ketemu sma orng baru, atw bhkan udh kenal lama tpi msih suka bingung mw ngomongin apaan 😀

      cari referensi n tips2 utk bahan obrolan atau bhan utk basa/i aja gan di blog2 terdekat 🙂

  3. […] melakukan gaya hidup mereka karena masih tinggal dengan orangtua mereka, yang secara finansial menjamin kehidupannya. Malah, dalam beberapa kasus ada yang dilaporkan bahwa orangtua mereka membawa makanan ke pintu […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s